Gado-gado sudah tidak asing lagi bagi kita, masyarakat Jakarta. Ya, gado-gado Jakarta diperkirakan berasal dari versi Peranakan Tionghoa dari pecel jawa. Gado-gado diperkirakan sudah ada sejak abad 20.

Kendati tidak ada bukti sejarah tentang asal usul gado-gado, banyak pihak menyatakan gado-gado berasal dari Jakarta. Indikasi tersebut bisa dilihat dari adanya lagu yang berjudul “Gado-Gado Betawi” yang popular tahun 1940 sampai dengan 1950 an.

Liriknya begini:

Gado-gadonya, Bung, dari Jakarta
Satu Bungkusnya, Bung, lima rupiah.

Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh Ivo Nilakreshna. Kini, makanan gado-gado bisa ditemukan di seluruh nusantara yang disajikan di restoran maupun rumah makan.

Lalu apa aja isinya? Gado-gado berisi sayur-mayur yang direbus/ kukus ditambah irisan tahu dan tempe goreng, serta telur rebus. Sayur-mayur yang digunakan seperti kubis, tauge, kacang panjang, bayam, kangkung, labu-siam, paria, dan kadang-kadang wortel.

Lalu seperti apa penyajiannya? Gado-gado yang berisi aneka sayur-mayur tersebut disiram dengan saus kacang yang legit. Kemudian ada juga ditambah sedikit kecap manis, dan taburan bawang merah goreng, dan biasanya ditambah lagi dengan lontong ataupun nasi putih.

Seperti apa kandungan gizinya? Jangan salah, gado-gado mengandung kalori, karbohidrat, protein, dan lemak yang cukup memadai untuk kesehatan tubuh.

Adapun kandungan gizi per 100 gram ataupun per porsi, sebagai berikut:

Lemak – 7 gram (per 100 gram) atau 28 gram per porsi.
Protein – 7 gram (per 100 gram) atau 29 gram per porsi.
Karbohidrat – 7 gram (per 100 gram) atau 30 gram per porsi.
Kalori – 120 kkal (per 100 gram) atau 490 kkal per porsi.

Nah, kamu sudah pernah coba belum kuliner khas Jakarta ini. Ayo coba Gado-Gado Jakarta hanya di Kedai Kayumanis, Matraman 😉